Latar Belakang
Perawat sebagai salah satu profesi diantara praktikan kesehatan merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan. Profesi ini sering menjadi tumpuan sorotan masyarakat karena disamping merupakan sumber daya mayoritas di setiap rumah sakit juga karena perawat merupakan tenaga kesehatan yang melakukan kontak paling lama dengan pasien.
Pekerjaan seorang perawat sangatlah kompleks. Pada satu sisi dirinya harus siaga menjalankan tugas mempertahankan kelangsungan hidup seseorang, sementara pada sisi lain dirinya harus siap menerima berbagai tekanan psikologis. Tekanan psikologis akan membawa perawat ke kondisi rentan dengan stres. Stres merupakan ketegangan mental yang pada gilirannya akan mengganggu kondisi emosional, proses berpikir serta kondisi fisik seseorang (Bergen & Fisher, 2003). Stres berlebihan akan berakibat buruk terhadap individu untuk berhubungan dengan lingkungannya secara normal. Akibatnya kinerja menjadi menurun dan secara tidak langsung mempengaruhi keberhasilan diri dan organisasi tempat mereka bekerja (Salanova dkk., 2005).
Cara atau strategi untuk merespon setiap peristiwa yang terjadi di sekitar dikenal dengan istilah koping. Strategi koping merupakan istilah yang menunjuk pada bentuk reaksi otomatis individu untuk meminimalisir intensitas masalah yang dihadapi. Koping adalah usaha kognitif dan perilaku seseorang untuk mengelola tuntutan internal atau eksternal (konflik) yang muncul melebihi batas kemampuan (Lazarus, 1991). Strategi koping yang digunakan tidak terlepas dari aspek sejarah kehidupan seseorang terutama pengalaman dan kebiasaan mengatasi setiap hambatan.
Bergen & Fisher (2003) menguraikan bahwa ketidakmampuan individu menggunakan strategi tertentu untuk mengantisipasi dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh tekanan pekerjaan akan menimbulkan keadaan burnout atau suatu keadaan tak berdaya baik secara fisik, mental dan emosional.
Analisis transaksional adalah satu diantara bermacam teknik intervensi psikologis yang diharapkan dapat membantu perawat mengatasi masalah pribadinya. Analisis transaksional berasumsi bahwa orang-orang bisa belajar mempercayai dirinya sendiri, berpikir dan memutuskan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan-perasaanya.
Pelatihan analisis transaksional memiliki keterkaitan dalam upaya perawat melakukan koping adaptif. Penekanan koping mempersyarat perawat harus mampu menganalisis situasi sebelum bertransaksi dan berinteraksi dengan cara mengaktifkan status ego yang tepat. Pengaktifan status ego yang tepat dalam berinteraksi dengan lingkungan dan orang lain akan menghambat potensi konflik (Florio dkk., 1988; Greenberg, 2002).
Analisis transaksional diyakini merupakan metode yang berorientasi pada menelusuri ‘pengalaman-pengalaman menyedihkan’ sebagai manifestasi dari suatu kebuntuan, konflik intra psikis, dan atau hambatan interpersonal terutama menyangkut pola komunikasi dari masing-masing pihak ketika berinteraksi.
Analisis transaksional menyediakan petunjuk dan arahan mengenai bagaimana cara berespon saat berada dalam situasi yang menekan atau mengancam diri (Chakraborty, 1988). Model analisis transaksional memberi pemahaman tentang jenis interaksi dari masing-masing pihak yang terlibat. Jika pasien lebih menunjukkan cara interaksi Dewasa (Adult), maka teknik yang harus menjadi pilihan perawat adalah menggunakan status ego tertentu disesuaikan dengan status ego yang ditampilkan pasien agar pola komunikasi menjadi Ok. Dengan kata lain bila yang ditunjukan pasien adalah status ego Dewasa, maka perawat harusnya dapat menunjukkan pola status ego yang sama yaitu menunjukkan sikap bertanggungjawab serta cara-cara yang lebih rasional seperti terlihat aktif dan terencana dalam melakukan tindakan keperawatan
Sasaran
Peserta pelatihan AT adalah para Perawat sebuah Rumah sakit yang mengalami masalah dalam hal perilaku koping adaptif..
Tujuan Pelatihan Analisis Transaksi
Untuk membuka wawasan partisipan mengenai bagaimana strategi membangun suatu hubungan yang berbeda yang didasarkan atas ide-ide sebagaimana digambarkan dalam konsep analisis transaksi.
- Membuat setiap perawat menjadi akrab dengan metode analisis transaksi
- Memberikan pemahaman kepada perawat teknik penerapan analisis transaksi (AT)
- Mencapai otonomi diri termasuk menggunakan setiap unsur status ego secara sadar dan memadai.
- Memperbaiki wawasan dan kemampuan perawat dalam membangun transaksi, interaksi dan komunikasi yang efektif.
- Dengan memahami teknik-teknik analisis transaksi, perawat akan mampu mengembangkan strategi koping adaptif
Isi
Beberapa materi yang harus dipahami partisipan :
- Analisis status ego (Ego state),
- Analisis Transaksi,
- Analisis Strokes, dan
- Analisis posisi hidup (Life position).
- Injunction
- Redecision
- Mengeksplor Racket
- Game
- Menulis buku kehidupan
- Menyeimbangkan dominasi status ego
Metodologi
Adapun metode yang digunakan adalah :
- Kuliah / ceramah,
- Diskusi
- Role play
- Game, dan
- Kuesioner
Alokasi waktu
- Pendahuluan / ice breaking (15 menit)
- Penyampaian materi status ego + kuesioner (45 menit)
- Analisis Transaksi (30 menit)
- Analisis Strokes + kuesioner (45 menit)
- Analisis life posisi (30 menit)
- Injunction (30 menit)
- Redecision (30 menit)
- Mengeksplor Racket (30 menit)
- Game (30 menit)
- Kontrak (30 menit)
- Menulis buku kehidupan (30 menit)
- Memperbaiki dominasi status ego (30 menit)
Metode yang digunakan
- Ceramah
- Curah pendapat
- Diskusi
- Studi kasus
- Simulasi / Demonstrasi
- Coaching/pembimbingan
Instruksi untuk Trainer:
- Pendahuluan, Dalam bagian ini peserta akan dilengkapi dengan pengetahuan teoritis yang berkaitan dengan gambaran berbagai jenis hubungan interpersonal sehubungan dengan Analisis Transaksi.Analisis Status Ego Orang tua (Parent), Dewasa (Adult) dan Anak (Child). Status Ego Orang Tua. Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang tuanya dahulu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dikatakan dalam status ego orang tua. Oleh karena setiap individu mempunyai pengalaman pendidikan, sikap, pandangan dan pendapat yang khas dari kedua orang tuanya, maka setiap individu akan berbeda status ego Orang tua nya.
- Status Ego Dewasa. Jika individu bertigkah laku secara rasional, melakukan testing terhadap realita, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego dewasa. Pengalaman-pengalaman belajar yang didapatkan antara individu yang satu dengan yang lain berbeda, mengakibatkan status ego dewasa juga berbeda.
- Status ego dewasa dapat dilihat dari tingkah laku yang bertanggung jawab, tindakan yang rasional dan mandiri. Sifat dari status ego dewasa adalah obyektif, penuh perhitungan dan menggunakan akal.
- Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak. Jika individu melakukan, berperasaan, bersikap seperti yang di lakukan pada waktu masih kecil, maka individu tersebut dalam status ego anak. Setiap individu akan mempunyai pengalaman dan masa kanak-kanak yang berbeda-beda, maka status ego anak untuk setiap individu akan berbeda.
- Analisis Transaksi adalah mengacu pada setiap pertukaran social yang dilakukan individu dengan individu lainnya. Unsur-unsur pertukaran tersebut berlangsung pada saat melakukan komunikasi (verbal maupun non-verbal). Peserta akan diberi tahu tentang berbagai jenis transaksi baik transaksi sejajar (complementary transaction), transaksi silang (crossed transaction) dan transaksi terselubung (ulterior transaction). Setelah mengenalkan jenis-jenis transaksi, akan dirangkaikan dengan memberikan pemahaman mengenai proses dan ciri transaksi yang efektif.
- Analisis Strokes, Strokes dapat dipertimbangkan dalam cara yang paling sederhana sebagai bentuk penghargaan (apresiasi) dan hukuman. sebuah belaian meupakan bagian dari suatu perhatian yang melengkapi stimulasi yang optimal kepada individu. Belaian ini merupakan kebutuhan dalam setiap interaksi sosial dan menyehatkan. Belaian ini tidak hanya dibutuhkan dan terjadi pada anak, akan tetapi juga pada masa dewasa dan belaian yang diterima atau yang diberikan akan menguatkan posisi hidup seseorang.
- Analisis Posisi Hidup, Merupakan akibat dari suatu keputusan yang dibuat dalam rangka merespon bagaimana reaksi figur orang tua terhadap ekspresi awal anak akan kebutuhan dan perasaannya, serta merupakan komponen dasar dari naskah hidup individu. Ada 4 dasar posisi hidup:
- I’m OK – You’re OK (Saya OK, Kamu OK). Posisi ini merefleksikan bahwa individu mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri dan percaya pada orang lain. Individu tidak takut berhubungan dengan orang lain.
- I’m OK – You’re not OK (Saya OK, Kamu tidak OK). Posisi ini merefleksikan bahwa individu membutuhkan orang lain akan tetapi tidak ada yang dianggap cocok, individu merasa superior, merasa mempunyai hak untuk mempergunakan (memanipulasi) orang lain untuk mencapai tujuan pribadinya.
- I’m not OK – You’re OK (Saya tidak OK, Kamu OK). Posisi ini merefleksikan bahwa individu merasa tidak terpenuhi kebutuhannya dan merasa bersalah. Posisi ini merupakan posisi yang paling umum yang biasa disebut depresif dan inferior.
- I’m not OK – You’re not OK (Saya tidak OK, Kamu tidak OK). Posisi ini merefleksikan bahwa dirinya merasa tidak baik dan orang lain pun juga tidak baik, karena tidak ada sumber belaian yang positif, individu akan menyerah dan merasa tidak berdaya.
- Trainer harus memberikan informasi evaluatif mengenai posisi hidup ini kepada para peserta dan mereka harus didorong untuk mengidentifikasi sejauhmana posisi hidup dipandang adaptif ataupun maladaptive. Para peserta diajak untuk berani mengubah posisi hidup mereka yang sesuai dengan kontrak interpersonal.
- Perintah. Setiap orang dalam kehidupannya telah diprogram untuk menerima berbagai pesan dan perintah yaitu, pesan yang mengharuskan dan mau tidak mau harus dituruti hingga akhirnya terinternalisasi menjadi sebuah gaya hidup. Merefleksikan beberapa perintah-perintah yang sesuai dan logis akan membantu peserta termotivasi untuk mengubah dan mempelajari cara interaksi yang positif.
- Decision dan redecision (Keputusan dan Memutuskan Kembali). Orang-orang cenderung bergantung pada keputusan awal tanpa mampu berpikir untuk mengubahnya dengan keputusan baru yang lebih memadai dan mampu memperbaiki jalan kehidupannya. AT mengasumsikan bahwa apa yang sudah ditetapkan dapat diubah melalui keputusan baru. Peserta pelatihan akan diarahkan untuk mengidentifikasi keputusan awal yang kurang efektif atau merugikan untuk kemudian memodifikasi dengan keputusan baru yang lebih bermanfaat.
- Racket adalah semacam kumpulan perasaan inferior yang ada dalam diri setiap orang dan melengkapi naskah hidupnya (life-script). Pelatihan ini bermaksud membuka tabir ketidak tahuan peserta mengenai ciri-ciri racket nya. Beberapa jenis raket seperti: (a) raket kemarahan, (b) raket bersalah, (c) raket terluka, (d) raket depresi. Misalnya, jika seseorang mengembangkan sebuah raket bersalah, maka orang ini benar-benar akan mencari situasi yang akan mendukung perasaan bersalah tersebut. Bila tidak berusaha akar penyebab terprosesnya raket maka akan cenderung menimbulkan ketidakberdayaan dan akibatnya orang akan beresiko mengalami depresi, marah dan terus menerus tersakiti.
- Game (Mendeteksi kekeliruan aspek-aspek AT dalam sebuah permainan atau drama dan roleplay). Indikasi keberhasilan dalam melakukan game adalah apabila peserta menyadari peran negatif dan merugikan dirinya. Peserta dalam sesi ini akan sengaja diposisikan sebagaimana dirinya yaitu : dominasi status ego yang sering diperagakan dan mempengaruhi cirri transaksi, kecenderungan membiasakan diri dalam sebuah raket dan injunction, serta kebutuhan dan pengabaian stroke. Misalnya dalam memainkan game ketidakberdayaan (Helplessness), pada akhirnya akan terlihat bahwa ketidakberdayaan dipengaruhi oleh :
- Dominasi salah satu status ego,
- Terbiasa menempatkan posisi Kamu OK dan Aku Tidak OK,
- Tidak mampu mengubah (redecision) setiap perintah (injunction) yang merugikan diri karena terbiasa dan tidak menyadari bahwa naskah hidupnya (life-script) sangat kuat dipengaruhi cirri status ego Orang tua pengkritik (Critical Parent) dan Anak alami (Natural Child).
- Kontrak. Terapi AT bekerja berdasarkan kontrak, yang berarti bahwa klien secara jelas akan dilibatkan karena mereka akan menentukan sendiri apa yang ingin diubah dari diri mereka sendiri. Dan ini akan terjalin setelah peserta diperkenalkan dengan sebagian terminology dalam analisis transaksi.
- Menyusun buku pribadi. Peserta akan diminta untuk mencatat ringkasan naskah hidupnya dalam bentuk buku. Didalamnya akan memuat seluk-beluk kehidupan pribadinya termasuk titik balik sebagai kunci dari setiap peristiwa penting dalam kehidupan. Kemudian peserta akan diminta merevisi isi buku tersebut inilah yang menjadi kontrak sebuah pelatihan AT.
- Latihan memperbesar/memperkecil dominasi status ego. Latihan ini dapat dilakukan dengan pasangan dalam kelompok. Akan terlihat dalam sebuah format misalnya mengenai seberapa kuat pengaruh orang tua mempengaruhi status ego Orang tua anda. Peserta diminta untuk membayangkan catatannya (dengan mata tertutup), menghayati kehidupan masa kecilnya bersama orang tua. Bagaimana pernikahan mereka? Bagaimana gaya reaksi orang tua menyikapi perilaku anak-anaknya?
Jenis-Jenis Permainan
lebih di perincikan lagi mengenai metode permainan nya agar memudahkan dalam mencernah dan dan mampu menangkap gamabaran tentang teknikal pelksanannya.
disertai pula instrumen-instrumen yg lengkap.
trims….!