I. Pengantar
Siapapun tidak menyukai peperangan. Demikian pendapat Ralph K.White (1968) di dalam bukunya Nobody Wanted War : Misperception in Vietnam and Other Wars. Walaupun demikian keinginan manusia, namun demikian sejak dahulu kala peperangan adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari. Lembaran sejarah hampir semua bangsa di dunia dibasahi oleh darah dan air mata akibat peperangan. Sejarah manusia di masa yang akan datang dalam kaitannya dengan peperangan tampaknya semakin mengerikan. Perlombaan senjata nuklir di kalangan negara-negara super power makin tidak terkontrol. Jumlah senjata nuklir yang ada saat ini mampu menghancurkan dunia dalam tempo yang sangat singkat.
Apakah sebab-sebab yang menghantarkan manusia ke peperangan adalah pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab dengan tuntas oleh para ilmuwan.
Psikolog adalah sebagian dari ilmuwan yang tertarik untuk mempelajari sebab-sebab perang dari kondisi-kondisi yang memungkinkan adanya perdamaian.
Tulisan berikut adalah suatu tinjauan psikologi terhadap masalah “perang dan damai”
Pembicaraan masalah dimulai dengan melihat beberapa pandangan para ahli psikologi yang berkaitan dengan sebab-sebab terjadinya perang. Kemudian pembicaraan dilanjutkan dengan usaha-usaha terjadinya perang. Kemudian pembicaraan dilanjutkan dengan usaha-usaha untuk menciptakan perdamaian.
II. Sebab-sebab terjadinya perang
Peperangan adalah suatu jenis tingkah laku dari sekian banyak tingkah laku manusia di dunia ini.
Karena perang adalah “tingkah laku” maka penyebab perang dapat dilihat dari beberapa pendekatan yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Secara garis besar pendekatan yang dipakai untuk memahami tigkah laku dapat digolongkan ke dalam 4 pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan MOTIVASIONAL
2. Pendekatan REINFORSEMEN
3. Pendekatan KOGNITIF
4. Pendekatan Struktur Sosial
A. Pendekatan MOTIVASIONAL
Sumber penyebab terjadinya peperangan menurut pendekatan MOTIVASIONAL terdapat di dalam diri manusia, bukan hal-hal yang ada di dalam diri manusia. Para ahli berbeda pendapat tentang aspek MOTIVASIONAL yang mempengaruhi perilaku perang. Berikut ini disampaikan secara garis besar teori-teori yang dapat digolongkan pada teori yang menekankan aspek MOTIVASIONAL.
A.1. TEORI PSIKOANALISIS
Freud (1932), tokoh psikoanalisa, beranggapan bahwa perang terjadi oleh karena adanya dorongan agresif yang destruktif di dalam diri manusia. Dorongan ini bersumber dari THANATOS (instinct untuk mati) yang kehadirannya sudah ada sejak manusia dilahirkan. Dorongan ini timbul karena manusia, kehilangan rasa dicintai (Loss of Love).
Walaupun Freud percaya bahwa akal sehat manusia dapat mengontrol munculnya dorongan untuk membunuh atau merusak tidak pernah bisa dihilangkan karena dorongan tersebut adalah kebutuhan dasar manusia, yang tidak berbeda dengan kebutuhan makan dan minum.
Perang, kekerasan terhadap orang lain (pembunuhan), dan kekerasan terhadap diri sendiri (Bunuh Diri) akan terjadi bila manusia di dalam kehidupannya bersama orang lain mengalami frustasi.
Ahli-ahli lain yang teorinya bersumber dari pendekatan psikoanalisa mengajukan pendapat yang agak berbeda dengan pendapat Freud. Adler (19..) beranggapan bahwa “dorongan superior”lah yang mendorong seseorang untuk berbuat agresif-destruktif.
Hampir serupa dengan pendapat Adler ialah argumentasi yang dikemukakan oleh Rollo May (1943). Argumentasi yang diajukan oleh May menekankan kepada adanya keinginan manusia untuk “mengukuhkan kembali kekuasaaan dirinya (Restructuring of Power) yang tadinay tenggelam oleh adanya hambatan dari orang lain. Pengukuhan kembali kekuasaan ini bertujuan untuk menegakkan “indetitas diri” dan “mengaktualisasi diri”
A.2. TEORI FRUSTASI – AGRESI
Sekelompok psikolog dari Universitas YALE yang terdiri atas J. Dollard; L. Doob; N.E. Miller; O.H. Mowrer, dan R.R Sears (1939), mengajukan suatu hipotesis sebagai berikut “Agression is Always a Consequence of Frustation”., and “the Existence of Frustration Always Lead to Some Form of Agression”.
Hipotesis yang diajukan diatas telah mendapat kritikan. Namun para pengkritik tidak dapat menerima kata Always di dalam hipotesis yang diajukan oleh tokoh-tokoh Teori Frustrasi Agresi. Berdasarkan kritikan tersebut kata “always” diganti dengan kata “usually” (Miller,1941).
Ditinjau dari teori Frustrasi-Agresi, perang bersumber dari adanya rasa frustasi yang berupa frustrasi terhadap penguasa, ataupun frustrasi terhadap suatu bangsa lain yang ingin berkuasa di bidang politik, ekonomi ataupun aspek lainnya.
B. PENDEKATAN UNTUNG-RUGI
Menurut pendekatan untung-rugi setiap perbuatan yang diikuti oleh keuntungan atau terhindar dari kerugian berkecenderungan untuk dilakukan. Tokoh pendekatan ini ialah BANDURA yang menamakan teorinya dengan “Social Learning Theory (Bandura, 1973). Menurut Bandura perbuatan agresi dilakukan orang karena perbuatan tersebut menghasilkan “Reward”. Didalam buku Agression : A Social Learning Analysis, Bandura menulis : “A great deal of aggression is prompted by its anticipated benefits”.
Jika ditinjau dari pendekatan “untung-rugi”, peperangan timbul oleh karena orang mengharapkan “keuntungan” dari peperangan yang dilakukan. Melihat dari sejarah tampaknya banyak hal yang mendukung pendekatan untung rugi. Misalnya banyak peperangan yang dilakukan dengan tujuan kolonialisasi atau “ekspansi territorial” yang kesemuanya dapat memberikan keuntungan secara ekonomis.
C. PENDEKATAN KOGNITIF
Pendekatan psikologis yang akhir akhir ini sangat popular di dalam usaha memahami perilaku manusia ialah pendekatan kognitif. Proses kognitif yang seringkali dibicarakan dalam kaitan dengan terjadinya konflik internasional ialah proses persepsi yang keliru (MISPERCEPTION) di dalam menanggapi situsi internasional.
Tokoh utama yang menggunakan pendekatan kognitif di dalam menganalisis konflik internasional ialah Ralph K. White (1970). Menurut pendapat White, ada 6 hal yang merupakan MISPERSEPSI yang seringkali menimbulkan konflik imternasional yaitu :
1. “DIABOLICAL ENEMY IMAGE” (pandangan bahwa musuh jahat seperti
setan).
2. “VIPILE SELF IMAGE” (pandangan bahwa diri sendiri jantan).
3. “MORAL SELF IMAGE” (pandangan bahwa diri sendiri adalah moralis)
4. “SELECTIVE INATENTION” (tidak memperhatikan hal-hal yang bertentangan
dengan keyakinan).
5. ABSENCE OF EMPATHY (tidak adanya rasa empati).
6. MILITARY OVER CONFIDENCE (keyakinan yang berlebih-lebihan akan
kekuatan militer).
White mengumpulkan beberapa fakta untuk menunjang pendapat yang dikemukakan di atas (White 1969; 1970).
a). Pandangan bahwa musuh jahat seperti setan.
Bila dua negara dalam keadaan konflik, negara-negara tersebut akan melihat negara musuhnya dalam bayangan yang serba negatif. Masing masing negara melihast musuhnya sebagai “agresor” dan negara tersebut sebagai obyek agresi. Kenyataan ini dimati oleh BROFENBRENNER (1961) di dalam penelitiannya tentang mispersepsi di dalam hubungan Amerika Serikat dengan Rusia. Untuk membuktikan adanya “Mispersepsi” tersebut, Brofenbrenner seorang ahli psikoligi sosial di salah satu Perguruan Tinggi Amerika mencoba meninggalkan negaranya (Amerika Serikat) selama beberapa lama untuk berdiam di Rusia.
Selama beberapa minggu di Rusia Brofenbrenner mewawancara orang Rusia, membaca Koran/majalah Rusia, menonton televisi Rusia, dan banyak berkomunikasi dengan orang-orang Rusia. Hasil wawancara menunjukkan bahwa orang Rusia melihat Amerika sebagai negara yang suka akan perang, dan merupakan ancaman bagi Rusia dan negara lain di dunia.
Selain itu orang-orang Rusia berkeyakinan bahwa hanya Komunis lah yang dapat menciptakan perdamaian dunia.
Pemerintah Amerika, menurut orang-orang Rusia, menipu rakyatnya dan memaksa rakyatnya untuk hidup dalam sistem Kapitalis. Cara berpikir orang Rusia terhadap Amerika tersebut sama persis dengan cara orang Amerika melihat Rusia.
Mispersepsi seperti yang dikemukakan di atas juga terjadi pada waktu Perang Dunia I. Orang-orang Amerika beranggapan bahwa Perang Dunia I adalah akibat dari agresi yang dilakukan oleh Jerman. Namun fakta sejarah menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak benar. Orang-orang Jerman justru melihat diri mereka sebagai korban agresi dari kerjasama antara Rusia, Prancis dan inggris. Bila sekiranya mereka (Jerman) tidak menyerang lebih dahulu, maka mereka akan dikepung oleh musuh dari dua arah.
Dokumen-dokumen sejarah yang dianalisis oleh beberapa ahli menunjukkan bahwa Jerman menyerang lebih dahulu semata-mata karena rasa takut diserang oleh negara-negara sekutu tersebut (lihat White, 1969).
b. Pandangan bahwa diri sendiri adalah jantan.
White menggunakan kasus perang Vietnam untuk menunjukkan adanya pandangan seperti di atas.
Pidato-pidato yang disampaikan oleh para senator di Kongres Amerika dalam kaitannya dengan perang Vietnam, menurut analisis White, umumnya berisikan pernyataan bahwa Amerika harus bersikap jantan, tidak penakut di dalam menghadapi masalah Vietnam. Amerika harus berani berperang demi menjaga nama baik.
Pandangan-pandangan seperti ini tampaknya memperkecil kemungkinan untuk menyelesaikan persengketaan secara damai.
c). Pandangan bahwa diri sendiri adalah moralis.
Negara yang dalam konflik dengan negara lain melihat dirinya bahwa hanya dialah yang benar, dan Tuhan bersama dia. Buat kebanyakan orang Amerika, segala tindakan Amerika di luar negeri dianggap benar, karena memperjuangkan hak azasi manusia dan menciptakan perdamaian dunia. Pikiran yang berkaitan dengan keuntungan bagi Amerika sendiri dari tindakan luar negeri Amerika biasanya tidak begitu terlintas dipikiran mereka.
d).Tidak memperhatikan hal-hal yang bertentangan dengan keyakinan.
Di dalam keadaan konflik orang-orang seringkali tidak mau mengindahkan keterangan-keterangan (berita-berita) yang bertentangan dengan apa yang dia yakini. Segala informasi dari negara musuh dianggap tidak benar.
Demikian pula dengan pendapat/berita-berita dari sumber lain yang bertentangan dianggap tidak benar, dan diabaikan. Pokoknya yang paling benar hanyalah diri sendiri. Kasus perang Vietnam tampaknya menunjang adanya hal diatas. Pemerintah Amerika Serikat tidak mengindahkan sama sekali pendapat tokoh masyarakat Amerika di dalam masalah perang Vietnam. Walaupun demonstrasi anti perang Vietnam melanda kota kota besar di Amerika, Pemerintah Amerika tetap terus berperang untuk beberapa tahun.
e).Tidak adanya rasa empati.
Dalam keadaaan konflik negara yang terlibat tidak memiliki sama sekali rasa empati terhadap penderitaan yang dirasakan oleh lawan. Hadirnya rasa empati terhadap penderitaan lawan dianggap suatu “ketidak jantanan”(UMMANLY), dan hal ini akan memperlemah keyakinan bahwa pihak merekalah yang benar, dan lawanlah yang salah.
Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh psikolog, misalnya penelitian MILGRAM (1963) tentang “OBEDIENCE” (kepatuhan terhadap pemerintah) menunjukkan keadaan di mana empati tidak muncul. Banyak subyek penelitian MILGRAM yang sampai hati memberikan aliran listrik dengan voltase sangat tinggi kepada Si Korban, yang tidak dapat menjawab soal-soal pelajaran yang diajukan. Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh ZIMBARDO (1972) tentang “PATHOLOGY OF IMPRISONMENT”. di dalam penelitiannya Zimbardo meminta sejumlah mahasiswa untuk berperan sebagai petugas penjara, yang harus mengawasi narapidana (yang juga diperan oleh mahasiswa). Ternyata mahasiswa yang berperan sebagai petugas penjara, sangat kejam terhadap sesama mahasiswa yang kebetulan berperan sebagai narapidana.
f). Keyakinan yang berlebih-lebihan terhadap kekuatan militer.
Perang akan terjadi di konflik di antar negara bila masing masing negara merasa yakin akan keampuhan kekuatan militer yang dimilikinya. Masing masing negara yakin bahwa negaranya pasti menang di dalam peperangan. Pikiran yang demikian seringkali hanya merupakan ilusi.
Perang Vietnam yang berlangsung cukup lama tidak memberikan kemenangan militer bagi pemerintah Amerika Serikat, walaupun sebelum perang ahli-ahli Amerika sangat yakin bahwa mereka pasti menang. Demikian pula dengan perang Teluk Parsi antar Irak dan Iran. Di saat Irak memulai peperangan, Irak merasa yakin akan menang, mengingat keadaan Iran yang masih dilanda macam-macam masalah sehabis Revolusi. Namun apa yang dipikirkan Irak tidak benar sama sekali. Sampai hari ini Irak dan Iran masih berperang, walaupun perang sudah berjalan lebih dari empat tahun.
Selain hal-hal yang dikemukakan oleh White di atas, ada lagi suatu bentuk kesalahan pandangan (mispersepsi) yang dapat menimbulkan konflik internasional, yaitu cara berfikir “HITAM-PUTIH”. Cara berpikir ini biasanya hanya melihat sesuatu dari dua kemungkinan “kalau bukan kawan saya”, pasti “lawan saya”. ‘Kalau Tidak Amerika, pasti Rusia”.
Cara berpikir demikian seringkali menimbulkan kesalahan di dalam melihat sesuatu masalah internasional. Sebagai contoh di waktu meletusnya “Revolusi Iran”, Amerika menuduh Revolusi tersebut didalangi oleh Komunis Rusia. Akhirnya diketahui bahwa revolusi Iran betul-betul bebas dari tunggangan negara luar. Persepsi yang keliru seperti diatas juga terjadi pada pandangan negara Superpower terhadap pergolakan di negara dunia ke tiga. Setiap ada gerakan untuk menumbangkan REZIM yang berkuasa, selalu ada anggapan bahwa gerakan tersebut di tunggangi oleh negara lain (Kalau tidak Rusia, ya Amerika). Jarang sekali ada anggapan bahwa gerakan tersebut adalah gerakan murni rakyat yang tertindas oleh Rezim yang berkuasa.
A. 4. PENDEKATAN STRUKTURAL
Pendekatan struktural melekat masalah pada struktur kehidupan yang ada di masyarakat sebagai sumber terjadinya konflik, kekerasan, atau peperangan. Adanya Strata didalam kehidupan bermasyarakat dan kehidupan bernegara dapat menjadi sumber pertikaian; apabila Strata tersebut menjadi sumber ketidak adilan.
stratifikasi Sosial, seperti golongan kaya, golongan menengah, dan golongan miskin dapat menjadi sumber bentrokan apabila tidak adilnya distribusi hasil-hasil pembangunan suatu negara, ledakan sosial yang manifestasinya berupa kekerasan dapat mudah terjadi.
Dalam situasi Internasional, adanya pengelompokan politik Blok Barat, Blok Timur, dan Blok Dunia ketiga, dapat mempermudah terjadinya konflik Internasional. Pengklasifikasian ekonomi dunia kedalam klasifikasi Utara-Selatan juga dapat menggoyahkan perdamaian dunia.
Apakah sebabnya “Strata” dapat menimbulkan ancaman pada perdamaian?. Ditinjau dari ilmu Psikologi, ancaman tersebut dapat terjadi oleh karena adanya pengelompokan didalam kehidupan bermasyarakat memberi peluang bagi terjadinya “Konflik antar kelompok (Group Conflict)”.
Pengelompokan akan membuat perasaan “in group” vs “out group” semakin jelas. Anggota-anggota kelompok biasanya merasakan kelompok dialah yang paling baik, dan harus diperhatikan kesejahteraannya. Eksperimen “group conflict” (lihat Sherif et al, 1961) menunjukkan bahwa pengelompokan ini apabila disertai dengan kompetisi dalam bidang tertentu dapat menimbulkan konflik-konflik yang meregangkan hubungan antar kelompok. Didalam kelompok, orang-orang lebih mudah kehilangan kontrol sosial, sehingga mereka lebih mudah melakukan tindakan-tindakan yang a-sosial. Dalam kelompok dorongan destruktif yang dimilik dapat mudah dilepaskan, salah satu cara pelepasannya adalah perang.
Evaluasi terhadap ke empat pendekatan
Ke empat pendekatan telah menampilkan argumentasinya sendiri-sendiri tentang sebab-sebab terjadinya perang. Namun dapatkah diterima argumentasi ke empat pendekatan tersebut?
Pendekatan Motivational yang menekankan pada dorongan individual seperti dorongan agresi, dorongan untuk menjadi superior; kebutuhan akan prestise, kebutuhan akan status, tampaknya sulit untuk diterima sebagai penyebab utama terjadinya perang. Teori-teori yang menekankan aspek motivational dapat diterima untuk menerangkan konflik antar dua orang individu, atau sejumlah kecil individu. Tetapi untuk dapat digeneralisasikan ke situasi perang yang melibatkan sejumlah besar orang (negara) tampaknya sulit untuk diterima. Banyak perang yang sifatnya defensif (mempertahankan diri) bukan agresif (menyerang). Dapatkah dorongan agresi dipakai untuk menerangkan sebab-sebab perang defensif? tampaknya sulit untuk diterima. Perang “Terusan Suez” di tahun 1956, bukan disebabkan luapan emosional dorongan agresi, tetapi perang yang didasarkan atas pengambilan keputusan dengan kepala dingin oleh kabinet Inggris.
Menurut pendapat penulis pedekatan Reinforsemen, pendekatan kognitif dan pendekatan struktural lebih mampu menampilkan argumentasi tentang dasar-dasar terjadinya perang. Perang adalah suatu taktik yang dipakai untuk memperoleh “positive reinforsemen”. Ditinjau dari pendekatan Struktural apabila “kepentingan” suatu kelompok terancam oleh kelompok lain maka anggota kelompok akan menggunakan perang sebagai cara untuk memperoleh “kepentingan” tersebut. Menggunakan bahasa psikologi, “kepentingan”, apakah kepentingan itu politik, ekonomi, sosial, atau lainnya, adalah “positive reinforsemen”. Perang seringkali terjadi oleh karena adanya mispersepsi bahwa kepentingan kelompok terancam kelompok lain.
Peningkatan kemampuan teknologi Nuklir di suatu negara dianggap ancaman oleh negara lain. contihnay pendirian reaktok nuklir di Pakistan, dianggap ancaman ileh India, walaupun reaktok tersebut untuk kepentingan pembangkit tenaga listrik.
C. USAHA UNTUK MENCIPTAKAN PERDAMAIAN
Bila kita yakin dengan argumentasi pendekatan struktural bahwa terjadinya perang disebabkan adanya kelompok-kelompok manusia merasa kepentingannya terancam, maka jalan untuk menghindari peperangan tiada lain kecuali melenyapkan keterancaman tersebut. Oleh karena perasaan terancam seringkali timbul oleh mispersepsi terhadap situasi yang sebenarnya, maka usaha penciptaan perdamaian harus diarahkan untuk menghilangkan mispersepsi ini.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi mispersepsi ini. cara-cara tersebut antara lain ialah sebagai berikut :
- Orang-orang (kelompok ; negara) harus berusaha untuk menyadari bahwa
mispersepsi akan sudah terjadi apabila adanya ketertutupan di dalam
komunikasi. Perbatasan informasi yang datang dari kelompok (negara) lain akan menyebabkan orang-orang di suatu kelompok (negara) lain memandang masalah yang dihadapi. Akibatnya orang-orang di negara tersebut merasa bahwa merekalah yang paling benar. Sensor berita yang masuk dari kelompok (negara) lain, dan propoganda yang dilakukan oleh pimpinan kelompok (pemerintah suatu negara) akan memperhebat mispersepsi terhadap masalah Usaha-usaha antar kelompok atau antar negara untuk membuka komunikasi guna mencapai saling pengertian (persepsi yang akurat) adalah hal yang harus digalakkan. Adanya program pertukaran pelajar, pemuda, mahasiswa antar negara akan mempersempit kemungkinan terjadinya mispersepsi. Saling kunjung mengunjungi antara para pejabat pemerintah antar negara adalah cara lain yang perlu lebih sering dilakukan untuk mengurangi mispersepsi. Kecurigaan terhadap turis-turis asing (yang manifestasinya mempersulit pemberian visa) akan menyempitkan orang-orang dari negara lain untuk memahami keadaan di suatu negara. - Penciptaan sesuatu yang merupakan kepentingan bersama. Konsep ini bersal dari pendapat Sherif et. at (1961) yang mengatakan bahwa “Super Ordinate Goal” yang dapat mengurangi konflik antar kelompok. “Super Ordinate Goal” yang saat ini dimiliki oleh setiap manusia di bumi ialah bagaimana “menghindari perang nuklir”, perang yang akan menghancurkan semua tata kehidupan umat manusia. Kampanye tentang bahaya nuklir harus lebih ditingkatkan, tidak saja hanya di negara-negara Super Power juga diseluruh dunia. Usaha-usaha untuk menciptakan kepentingan bersama (super ordinate goal) telah dibuktikan oleh Perancis dan Jerman; sebelum adanya Masyarakat Ekonomi Eropa (European Economic Community), Jerman dan Perancis telah berperang sebanyak tiga kali. Setelah kedua negara ini sama sama menjadi anggota MEE, mereka hidup damai tanpa peperangan. MEE bertujuan untuk meningkatkan kepentingan bersama sesama negara anggota. Peningkatan solidaritas ASEAN, dan menambah jumlah negara yang dapat menjadi anggota tentunya juga akan mengurangi konflik-konflik antar negara di Asia Tenggara. Kalau tidak ada tanggapan positif, inisiatif tersebut harus dibatalkan. Tetapi kalu ada tanggapan positif, inisiatif tersebut harus harus dilanjutkan dengan inisiatif baru lainnya. GRIT dapat menurunkan suhu konflik dan dapat menciptakan rasa saling percaya (Mutual Trust). Bila rasa saling percaya sudah timbul maka masalah-masalah besar yang menjadi sumber konflik dapat diatasi.PENUTUP
Tulisan diatas hanyalah sekelumit dari sekian banyak masalah psikologi yang berkaitan dengan perang dan damai.
Semoga apa yang ditulis diatas bermanfaat bagi usaha penciptaan perdamaian dunia.
Oleh Djamaludin Ancok